Monday, September 18, 2006

KUAJAK ISTRIKU MANDIRI, BINA RUMAH TANGGA

AWAL DARI SEGALANYA

Saat yang ditunggu pun akhirnya tiba. Menikah!! Kegalauan dan kegundahan sempat menghantui setiap mimpi dalam tidur. Meski acapkali yakinkan diri bahwa ALLAH SWT (Tuhan kami) menciptakan setiap makhluk secara berpasangan.

Namaku Anas, lengkapnya Anas Firdian. Lahir di Surabaya tanggal 11 Juni 1973. Anak pertama dari Papa H. Achmad Firman dan Mama Lilik Widyani, SH. Sedangkan adikku berturut-turut Randra Firdian, SH., Halida Firdiana, SE., dan Afyudin Firdian, SH. Mereka semua berdomisili dan tinggal di Surabaya – Jawa Timur.

Sementara istriku
Farah Damayanti. Lahir di Jakarta tanggal 7 Mei 1979. Anak bungsu dari Ayahanda (Alm) Tubagus Yasa Efendi dan Ibunda Siti Sunayah (biasa kami panggil : UMI). Kakak-kakak kami berturut-turut dari yang pertama adalah Elis Erlina, Siti Fauziah, M. Abdul Basit, dan M. Fahmi Fadli. Mereka berdomili dan tinggal di Depok, dan satu di Bojong Gede – Bogor.

Cukup jelas kali ya.. siapa kami berdua ini dan darimana asalnya..

Kisah perkenalan dan pertemuan kami di-‘jembatani’ oleh seorang kawan, alias Mak Comblang gitu.. Kebetulan aku masih jomblo, sementara istriku ketika itu sudah lama putus dengan pacarnya. Tanpa melalui proses pacaran, jadilah kami saling berkomitmen dan janji setia sehidup semati. Ada satu hal yang sedikit berbeda dari umumnya. Aku belum pernah sekalipun mempertemukan istriku (ketika itu calon istri) kepada orang tua dan adik-adikku. Maklumlah, mereka nun jauh disana, Surabaya bo’. Tapi meski tak ada acara temu muka atau perkenalan, kuyakin kalau pilihan berpasangan hidup dengan yang satu ini masih dalam batas-batas sesuai dengan harapan dan keinginan orang tua.

Ujian pertama pun muncul. Sebelum hari dan tanggal pernikahan ditentukan, sebuah pertanyaan datang menghampiri yakni bahwa ternyata istriku bergolongan darah tipe RHESUS Negatip. Aku pun bingung harus bagaimana, karena jujur baru kali ini kujumpai istilah RHESUS Negatip ini. Aku sangat menghargai kejujuran dia dengan menceritakan kondisi diri yang demikian. Hari demi hari kuhabiskan waktu luang disela-sela kesibukan rutin di kantor dengan searching artikel-artikel, berita, atau apa saja seputar itu di internet. Dan kini aku pun paham serta mengerti apa dan bagaimana RHESUS Negatip itu. Barangkali secara singkat bisa digambarkan bahwa kalau terjadi percampuran darah antara person bergolongan darah tipe RHESUS Negatip dengan person bergolongan darah tipe RHESUS Positip, akan mempengaruhi proses pembuahan guna bisa memiliki keturunan atau anak karena sangat bergantung dengan bantuan dan pertolongan medis dan terapi tertentu.

DUNIA LAIN

Hatiku pun tetap pada pilihan dan sudah berketetapan bahwa pernikahan harus dilaksanakan. Dengan berbekal pada keyakinan dan doa akan bantuan ALLAH SWT, maka hari dan tanggal pernikahan ditentukan. Hari Minggu tanggal 6 Pebruari 2005 merupakan hari pernikahan kami. Dilaksanakan secara sederhana di kediaman mertua, Komplek Perumahan Lembah Hijau, Mekarsari, Cimanggis, Depok. Seluruh kerabat dan sahabat-sahabat serta keluarga besar berkenan meluangkan waktunya menghadiri undangan resepsi pernikahan kami.


Bangga dan bahagia serta lega rasanya telah melewati saat-saat tegang mempersiapkan segala sesuatu di hari pernikahan tersebut, karena semuanya kami yang mempersiapkan, mengatur, bahkan sampai mendanai biaya pernikahan. Memang komitmen awal berdua adalah tidak mau merepotkan siapapun, terlebih kepada kedua orang tua kami.

Sebagai pelepas segala kepenatan pikiran pasca pernikahan, kami berdua berkesempatan untuk jalan-jalan di pulau dewata, Bali. Melalui sebuah travel biro wisata, kami dipandu ke sejumlah lokasi menarik disana.


Melihat keceriaan dan kebahagiaan istriku, rasanya senang sekali. Betapa tidak, saat persiapan dan menjelang pelaksanaan pernikahan nampak istriku stres banget. Karena begitu banyaknya hal-hal yang harus diurus dan dikerjakan oleh kami berdua, dan hanya kami saja. Bersyukur kami berdua tidak jatuh sakit setelah hari pernikahan.


Sepulangnya dari Bali, kami lantas menjalani rutinan sebagai pasangan suami-istri. Banyak hal baru yang harus kami pelajari bersama, kami diskusikan, kami perbincangkan, dan ‘lain-lain’ tentunya. Menempati dengan sistem sewa atas sepetak rumah yang tidak terlalu bagus di daerah dekat mertua, tidak membuat kami berkecil hati. Berbekal modal keyakinan dan niat untuk mandiri membina bahtera rumah tangga, suatu saat kehidupan kami bisa lebih baik.

Kebetulan kami berdua memiliki komitmen yang sama mengenai anak, sehingga tidak ada alasan bagi kami untuk menunda hadirnya sang buah hati kedalam bahtera rumah tangga ini. Oleh sebab itu, sekali lagi dengan berbekal keyakinan dan doa kami selalu yakinkan didalam hati bahwa harus siap apabila ALLAH SWT menitipkan seorang ‘malaikat’ kecil kepada kami. Meski tidak dapat dipungkiri kalau adanya fakta perbedaan RHESUS diantara kami cukup memberikan pengaruh secara psikis, namun kami pasrahkan segala sesuatunya kembali kepada-NYA. Yang terbaiklah yang selalu kami harapkan.

LILIN KEBAHAGIAAN

Dan pada akhirnya, istriku pun hamil. Berita ini kami ketahui saat usia 6 minggu kehamilan istri. Bagai ketiban duren di terik siang matahari, rasa syukur selalu kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT. Aku pun semakin memantapkan keyakinan dan semangat bahwa langkah yang kutempuh sudah benar dan diridhoi oleh ALLAH SWT, terbukti dengan dihadirkannya seorang anak. Karena kondisi perbedaan kami, lantas aku mencari tahu perihal dokter ataupun rumah sakit yang paham betul mengenai RHESUS Negatip ini. Telepon kesana-kemari, demikian juga melalui sahabat, kerabat, atau kawan, kugali informasi sebanyak-banyaknya.


Alhamdulillah, atas rekomendasi seorang teman kantor (Vierdha) kami mendaftarkan istri untuk kontrol berobat di Rumah Sakit Asih – Panglima Polim Jakarta Selatan. Karena disana berpraktek seorang dokter
(dr. Nurwansyah) yang kami yakin, atas berbagai masukan dan saran, paham betul dunia RHESUS Negatip. Dan bahkan konon, dokter ini bersama dengan tim dokter yang lain di Rumah Sakit Harapan Kita, telah berhasil menyelamatkan bayi yang masih berada didalam kandungan seorang ibu dengan RHESUS Negatip, yang menikah dengan seorang RHESUS Positip. Mirip betul ceritanya dengan kami.


Tidak terkatakan betapa bahagianya, memantau perkembangan anak didalam rahim istri, hari demi hari, minggu demi minggu. Istriku pun mulai menunjukkan kelakuan atau kebiasaan umumnya pada ibu-ibu hamil, misalnya nggak suka mencium bau pewangi pakaian, bau nasi yang sedang dimasak, tapi anehnya yang tadinya nggak suka sama sekali dengan ikan lele malah sekarang saat hamil selalu request nasi uduk ikan lele sambal dan lalapan. Beruntung, nggak nyidam yang aneh-aneh.


Demikian pula orang tua kami menyambut dengan penuh kegembiraan. Kalau di pihakku, anak ini adalah cucu pertama. Tapi kalau di pihak istriku, cucu ke-10. Banyak bukan?! Dan terakhir, kakak istri yang nomor 3 nambah anak. Maka lengkaplah kesebelasan cucu dari UMI.

OBAT RHOGAM BUAT ANTI RHESUS


Dibalik semua kegembiraan, perlahan aku mulai pusing dengan kondisi istri yang RHESUS Negatip ini. Karena menurut dokter, di bulan ke-7 usia kehamilan istriku harus mendapatkan suntikan obat yang namanya RHOGAM. Obat inilah yang diharapkan dapat menekan jumlah antibody yang terbentuk didalam tubuh istriku saat hamil. Antibody ini terbentuk karena dipicu oleh adanya perbedaan RHESUS antara istri dan anakku. Jadi, menurut penjelasan dokter, apabila terjadi percampuran (perkawinan) antara person (perempuan) RHESUS Negatip dengan person (laki-laki) RHESUS Positip maka lebih dari 70% si anak akan mengikuti RHESUS ayahnya. Inilah yang kemudian memicu adanya pembentukan antibody didalam tubuh istri. Yang membahayakan adalah perbedaan RHESUS dalam satu tubuh ini dianggap layaknya adanya suatu virus atau bakteri didalam tubuh istri, maka antibody inilah yang berperan sebagai pertahanan tubuh sang istri. Ngeri yahh…?!


Akhirnya aku dapatkan obat itu di RS. Harapan Kita. Ternyata harganya luar biasa fantastis. Meski berupa suntikan (satu kali suntik) tapi harganya bisa mencapai Rp. 1,3 juta. Tak apalah aku pikir, karena kalau istriku tidak mendapatkan obat ini, dikemudian hari (untuk anak kedua dan seterusnya) akan memerlukan penanganan medis secara khusus dari dokter yang paham seluk-beluk RHESUS ini dan yang pasti lebih memerlukan banyak biaya. Ada sedikit kisah yang sempat mendebarkan, yakni selain mahalnya harga, obat itu ternyata memerlukan tempat penyimpanan yang bersuhu dingin dan di RS. Asih tidak lagi tersedia tempat untuk menyimpan obat kami. Maka jadilah lemari es di rumah kami jadikan sebagai tempat penyimpanan obat itu sampai hari penyuntikan tiba, yakni tepat di bulan ke-7 usia kehamilan istri. Lumayan juga kawatir, takut kalau-kalau obat itu rusak atau bagaimana..



BERJUANG UNTUK OBAT RHOGAM

Ternyata kebutuhan akan obat itu tidak berhenti sampai disini. Saat melahirkan pun istri masih memerlukan obat itu, bahkan tidak boleh lebih dari 48 jam setelah melahirkan. Hal ini guna mencegah terpicunya kembali pembentukan antibody. Oleh karena itu dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan serta agar membuat kami lebih dapat mempersiapkan segala sesuatunya, maka kami memohon kepada dokter agar kiranya proses melahirkan dilakukan secara caesar saja. Kami pun kembali mencari obat itu, yang ternyata untuk kali kedua ini sungguh-sungguh sulit didapat. Tak kurang dari mulai RS. Hermina, RS. Pondok Indah, RS. Bintaro, RS. Harapan Kita, dan RS. Asih sendiri sudah kami jajaki untuk pembelian obat tersebut. Semuanya nihil.


Kepasrahan pun mulai menggelayuti hati kami.. Tak henti-hentinya harapan dan doa kami panjatkan kepada ALLAH SWT agar kiranya diberikan kemudahan guna mendapatkan obat itu atau setidak-tidaknya diberi jalan / petunjuk yang terbaik buat kami sekeluarga.

Sungguh kuasa ALLAH SWT berkehendak lain. Suatu pagi, sahabat istri yang sudah lama tidak ada kabar berita tiba-tiba call menanyakan kabar istri. Pada kesempatan itu, istri bercerita soal permasalahan yang sedang kami hadapi dalam mencari obat RHOGAM. Selanjutnya dari sini mulai kami menemukan titik terang. Ternyata dia memiliki seorang kawan satu kebaktian dalam gereja yang kebetulan bekerja di sebuah klinik didaerah Prapanca. Kami diberi nomor telepon dan contact person yang bisa dihubungi.


Dan singkat cerita, akhirnya kami mendapatkan juga obat RHOGAM tersebut dengan harga yang luar biasa mahalnya sekitar Rp. 2,3 juta. Tapi tak apalahh...


HARI PELAKSANAAN CAESAR

Karena kami rayu berulang kali, dokter yang rutin memeriksa kehamilan istri pada akhirnya bersedia juga melakukan operasi caesar. Disepakati tanggal 5 Nopember 2005 pukul 07.00 WIB. Persis satu hari setelah lebaran. Coba bayangin, kami berdua naik motor berangkat ke RS. Asih untuk check-in sebelum keesokan harinya dioperasi. Perbekalan sudah kami persiapkan jauh hari sebelumnya. Ohh.. iya.. aku ditemani Papa saat proses caesar istriku. Biar ada orang yang buat aku bisa sharing nantinya...

Maaf yaa... ga ada foto untuk yang satu ini. Tapi kami punya video operasi caesarnya lho.


Tepat pukul 07.20 WIB, anakku dilahirkan ke dunia untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Senang luar biasa mendengar tangisnya untuk pertama kali. Tak sadar mataku bergelimang air mata (bukan air mata buaya lohh). Bayi laki-laki mungil sehat dengan berat 3150gram dan panjang 46 cm dibawa keluar oleh dokter dari ruang operasi caesar untuk dimandikan dan selanjutnya diazani.

Setelah semua proses sudah dijalani, untuk sementara anakku ditempatkan di inkubator untuk penyesuaian suhu tubuh dengan suhu ruangan. Tak lama kemudian kulihat istriku dibawa keluar dari ruang operasi menuju ruang pemulihan. Disinilah aku bertemu istriku pasca operasi dan kuucapkan kata selamat dan terima kasih atas segala yang telah diberikan kepadaku. Kami berpelukan dan saling berpegangan tangan, melampiaskan kebahagiaan masing-masing.



Kabar berita lahirnya anakku pun dengan cepat beredar ke seluruh keluarga. Tak terkecuali yang di Surabaya. Seperti pernah aku singgung di awal, anakku adalah cucu pertama-nya. Sudah bisa aku duga bagaimana terharunya Mama saat menerima kabar cucunya telah lahir kedunia dengan sehat dan selamat. Sampai disini aku belum terpikir untuk memberi nama anakku ini karena masih disibukkan oleh segala hal berkait operasi caesar dan keharuan kami.



Beberapa hari istri harus berada di rumah sakit guna pemulihan jahitan bekas operasi caesar. Begitu pun aku, turut menemani istri tercinta. Beruntung bahwa meski kami menempati kamar klas 3, tapi saat itu banyak tempat tidur yang kosong sehingga baik aku maupun papa bisa ikutan tiduran didalam kamar tersebut. Baru agak menjelang sore, anakku dibawa ke ruang kamar kami. Perasaan haru, bangga, dan bahagia begitu melihat dan menyentuh pertama kali tubuh mungil kecil nan lucu anakku ini. Ternyata aku bisa!!! (maksudnya punya anak)..

Tiap hari saat waktunya menyusui, anak kami kembali dibawa kedalam ruang kamar. Meski istri saat itu belum bisa menyusui lantaran air susu belum keluar, tapi dengan telaten dibiasakan ke anak. Bahkan anakku sampai menangis terisak-isak lantaran air susunya tidak ada yang bisa terteguk. Para suster disana baik-baik, dan dengan sabar memberi pengarahan kepada istri perihal ASI.

Bertambah kebahagiaan kami setelah melihat medical record anakku yang ternyata memiliki golongan darah O tipe RHESUS Positip. Alhamdulillah, terima kasih Tuhanku.. Engkau telah menghadirkan buah hati curahan kasih sayang kami berdua dengan sehat dan selamat... Selanjutnya, kami menjalani hari-hari arungi bahtera rumah tangga seperti layaknya pasangan suami istri yang tengah berbahagia karena hadirnya sang anak..

NAMA ANAK

Hari-hari bersama keluarga, terutama dengan hadirnya sang buah hati sungguh memberi nuansa batiniah yang berbeda. Seakan hidup lebih memiliki makna dan tujuan. Oleh karena jauh-jauh hari kami telah mempersiapkan segala keperluan buat si kecil, maka saat membawa si kecil kerumah kami tidak mengalami kerepotan yang berarti. Dengan diantar oleh kakak, akhirnya sampai juga dirumah.

Oh iya, aku juga ingin ceritakan saat harus mengurus ari-ari anakku. Meski ditemani oleh Papa, aku agak gugup harus bagaimana dengan ari-ari tersebut. Papaku-lah yang justru dengan sigap dan cekatan mencuci / membersihkan ari-ari anakku dengan rinso agar hilang bau anyir. Setelah selesai dan sesuai dengan adat lazimnya, ari-ari tersebut diletakkan kedalam kendil kecil untuk selanjutnya dikubur dihalaman rumah. Nahh.., kebingunganku muncul saat harus meletakkan benda-benda atau perkakas kedalam kendil tersebut. Katanya, benda atau perkakas yang hendak dimasukkan kedalam kendil tersebut diupayakan sejalan dengan harapan dan keinginan terhadap si anak saat dewasa kelak. Misalnya kalau ingin anaknya jadi dokter, maka bisa benda berupa gunting atau jarum. Nahh.., kebetulan saat itu yang kepikir olehku adalah harapan agar si anak kelak menjadi orang cerdas, orang penting, atau orang yang paling dihargai dijamannya. Oleh karena kondisi rumah saat itu acak-acakan karena sudah seminggu ditinggal ke rumah sakit, aku pun jadi lupa dimana letak barang-barang yang kuperlukan. Dan terlebih diburu dengan waktu yang mau menjelang sore, lantas aku asal ambil saja barang-barang. Tau nggak apaan....?? User Guide-nya kartu seluler pasca bayar XPLOR. Moga aja kelak anakku menjadi orang yang canggih dan paham betul dibidang telekomunikasi. AMIIN...

Diawali dari keinginan istriku untuk memberi nama ZIDANE kepada si anak lantaran seneng banget dengan figur Zidane di Sinetron 'Lorong Waktu', maka aku coba mencari di buku-buku panduan dalam memberi nama islam pada anak. Yang kutemukan adalah ZAIDAN, yang berarti tambahan atau kelebihan. Agar lebih memberi makna, lalu kami ambil kata RIZQI, yang dimaksudkan agar ALLAH SWT selalu memberikan kelebihan atau tambahan rizqinya kepada anakku. Sebagai pemanis agar menampakkan perpaduan antara aku dan istriku, maka Mama mengusulkan ditutup dengan kata RAHADIAN yang diperoleh dari faRAH dAn firDIAN.

Lengkaplah sudah : Zidane Rizqi Rahadian

AKIKAH

Sebagai wujud rasa syukur kami, pelaksanaan akikah diselenggarakan di sebuah panti asuhan anak yatim piatu Al-Muhajirin di daerah Perumahan Lereng Indah, Cinere, Depok. Kebetulan lokasi panti asuhan tersebut tidak jauh dari tempat tinggal kami, Perumahan Wisma Mas, Cinere, Depok. Alhamdulillah, kedua orang tuaku dapat menyempatkan diri untuk datang melihat pelaksanaan akikah cucunya.

Untuk mempermudahkan pelaksanaan, kami memesan catering untuk akikah yang dibedakan atas dua macam menu. Dan tidak semuanya kami bawa ke lokasi panti asuhan tersebut, agar tetangga dan teman-teman serta keluarga besar kami turut dapat menikmati. Base Camp-nya ada di rumah kami, Perumahan Wisma Mas, iring-iringan konvoi kendaraan berangkat menuju ke lokasi pada ba'da dhuhur.

Seluruh keluarga kakak dan beberapa teman dekat turut hadir di acara akikah yang kami selenggarakan tersebut. Untuk para tetangga, kami rencanakan diantar saja rumah per rumah agar lebih mempermudah dan mempersingkat waktu.

Akikah sendiri sebenarnya merupakan salah satu ajaran didalam Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Secara filosofis Islam, setiap anak datang kepada kita masih dalam keadaan tergadai. Melalui akikah ini, wujud upaya kita untuk menebus / melunasi gadai dimaksud sebagaimana dituturkan oleh Rasulullah Nabi Muhammad SAW : "Setiap anak digadaikan dengan aqiqah ia disembelihkan binatang pada hari ketujuh dari kelahirannya, diberi nama, dan dicukur kepalanya." (HR.Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah dan Samiroh)

Menurut bahasanya, Akikah berarti memutus / memotong, sedangkan menurut istilah syar'i Akikah adalah menyembelih kambing untuk anak yang baru dilahirkan pada hari yang ke-7 (tujuh) dari kelahirannya. Mengenai hukumnya, para fukoha ada yang berpendapat wajib, sunnah muakkadah dan ada yang menolak akikah ini disyari'atkan. Pendapat yang terakhir ini adalah pendapat para ahli fiqih Hanafiah, adapun yang berpendapat wajib adalah diantaranya Hasan Basri, Al-Laits, Ibnu Saad. Sedangkan yang berpendapat sunnah muakkadah adalah sebagian besar ahli ilmu fiqih dan ijtihad, diantaranya Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad. Dan inilah pendapat yang terkuat...

LIFE'S MUST GO ON...

Hari-hariku semarak dengan gelak tawa dan canda bersama anak-istriku. Meski kami merasa bahagia, namun dibalik semua itu dan jauh didalam hati kekawatiran tetap saja ada. Yakni ketergantungan akan obat RHOGAM atau obat ANTI RHESUS !!!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home